Pengalaman Tabrakan Motor vs Motor

Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan kabar dari seorang teman kerja di Semarang dulu. Katanya, teman saya ini mengalami kecelakaan motor saat pulang dari tempat kerja. Setelah saya korek keterangan lebih dalam tentang sebab musababnya membuat saya jadi teringat dengan kecelakaan yang pernah saya alami. Karena kecelakaan yang teman saya alami ini hampir sama persis dengan kecelakaan yang saya alami.

Mungkin kurang lebih cerita tentang kecelakaan yang saya alami bisa saya ceritakan sedikit pada postingan ini.

Jadi begini ceritanya. Siang itu, sekitar pukul 2, saya pulang dari tempat kerja saya. Dengan mengendarai motor kesayangan saya, Si Njanges, saya melenggang dengan santai menuju ke rumah. Jarak yang harus saya tempuh dari tempat kerja ke rumah memakan waktu sekitar satu jam. Dengan kecepatan yang tidak kencang-kencang amat, siang itu saya menikmati perjalanan, hingga sampai pada satu tikungan, kejadian naas itu terjadi dan membuat sejarah baru dalam hidup saya.

Sesaat sebelum kejadian, motor saya sedang dalam masa perpindahan gigi dari gigi 3 ke gigi 4. Tiba-tiba pada saat saya sedang berusaha menambah kecepatan, muncul motor dari arah seberang jalan, yang kalau gak salah keluar dari gang, langsung menyeberang dan memotong jalan didepan saya. Brakk! Kecelakaanpun terjadi dengan cepat, tubuh saya terpelanting dari motor dan sampai salto melewati bapak-bapak yang saya tabrak tadi.

Ilustrasi kejadian

Beruntung keadaan lalu lintas waktu itu tidak begitu ramai, karena setelah saya terpelanting dan terkapar di tengah jalan sayapun masih bisa segera sadar dan berdiri serta berusaha berjalan dengan tertatih menahan nyeri untuk menghampiri motor saya yang ternyata sudah tidak berbentuk sempurna lagi, oh Njangesku :(

Keadaan Si Njanges pasca kecelakaan

Keadaan Si Njanges sangat memprihatinkan. Stang bengkok, tebeng depan pecah, kaca lampu riting pecah, antara roda dan slebor sudah tidak center lagi, pelek bengkok dan ternyata piringan cakram juga kena. Untungnya batok kepala Si Njanges aman, jadi sparepart yang diganti tidak bertambah banyak. Tetapi tetap saja menguras dompet :(

Melihat motor saya yang sudah tidak bisa dikendarai, saya berusaha menghampiri bapak-bapak yang terlibat kecelakaan dengan saya tadi untuk menanyakan keadaannya dan meminta pertanggungjawabannya, dilihat dari keadaan badan dan motornya terlihat keadaan bapak tadi tidak begitu parah. Hanya mungkin merasa nyeri sedikit dan shock karena setelah itu dia memegangi perutnya terus. Kontras dengan keadaan saya yang lumayan parah. Celana robek dan lecet sampai ke paha, tangan yang saya jadikan tumpuan pun lecet dan membekas sampai sekarang.

Celana yang terseret aspal

Untung saja saat itu saya menggunakan safety riding berupa jaket agak tebal, sepatu PDH, helm SNI, masker dan sarung tangan. Walaupun mungkin sarung tangan saya yang model setengah jari terlihat, tetapi hal ini sudah membuat saya lebih aman karena telapak tangan yang sempat mebentur aspal bisa tertahan sarung tangan saya. Dan saat saya terpelanting, terseret dan membentur aspal hal fatal tidak terjadi pada saya.


Barang bukti celana bolong-bolong terseret aspal

Dari segi kelengkapan berkendara, saya sudah merasa memenuhi syarat dibanding bapak tersebut, karena dibanding safety gear yang saya pakai, hal yang paling mencolok dari bapak tadi adalah bapak tadi tidak menggunakan helm. Ditambah sepertinya bapak tadi juga tidak membawa kelengkapan surat-surat, karena tanpa sepengetahuan saya ternyata bapak tadi pulang terlebih dahulu dan tiba-tiba muncul dengan ditemani bapak-bapak yang sok intel, ini yang bikin geregetan sampai sekarang. Untung tidak lama berselang bapak saya datang dan bisa menghadapi bapak yang sok intel tadi.

Kedatangan bapak saya membuat saya lega, karena jujur waktu itu saya tidak begitu pengalaman soal kecelakaan. Bagaimana setelahnya, bagaimana pertanggung jawabannya, siapa korbannya, siapa pelakunya pada saat itu jadi tidak jelas. Karena dari argumen bapak sok intel tadi saya lah yang salah karena saya yang jelas-jelas menabrak. Tetapi dari argumen saya dan bapak saya, bapak tadilah yang salah karena memotong jalan saya dengan tiba-tiba.

Gontok-gontokan sengit pun terjadi, ditambah dengan soknya bapak yang sok intel tadi mengaku kenal dengan polisi setempat, membuat bapak saya dan saya makin kesel, dikiranya bapak saya dan saya bakal takut. Tak kurang akal bapak saya juga mengaku punya kenalan polisi yang pangkatnya lebih tinggi, dan kenyataanya memang benar-benar kenal. Setelah itu bapak sok intel tadipun diam.

Sampai akhirnya hampir maghrib bapak sok intel tadi mungkin merasa tidak punya argumen lagi akhirnya mau memberikan ganti rugi, walaupun untuk melakukan perbaikan motor saya mungkin tidak cukup paling tidak bisa meringankan beban perbaikan motor saya, oh Njangesku :(.


Evakuasi Si Njanges




Tebeng depan Njanges pecah



0 Response to "Pengalaman Tabrakan Motor vs Motor"

Post a Comment

Tidak ada gading yang tak retak.Tak ada kesalahan yang tak terma'afkan. Hanya yang maha segalanya yang sempurna.

Mari kita pererat tali silaturahmi dengan meninggalkan komentar yang bermutu dan membangun :)